Apakah Kita Hanya Harus Mempelajari yang Disukai? – Opini Singkat

Saya merupakan lulusan jurusan matematika murni, tetapi saya sangat tertarik dan concern terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan di Indonesia. Ada begitu banyak lika-liku mengenai pendidikan di negara kita tercinta ini entah itu mengenai sistem belajarnya, kurikulumnya, sampai kualitas gurunya. Saya pun sebagai pemerhati dunia pendidikan “Lumayan up to date” dengan info-info tersebut.

Salah satu hal yang lumayan sering diperdebatkan dan dikritik dari sistem pendidikan kita adalah keharusan bagi murid-murid sekolah untuk mempelajari semua mata pelajaran. Orang yang mengkritik hal tersebut biasanya akan bilang bahwa sebaiknya sedari dini, anak-anak sudah diarahkan kepada minatnya masing-masing supaya fokus mengasah keilmuan yang disukainya tanpa dibebani oleh pelajaran yang tidak disukainya.

Well, saya pribadi setuju bahwa kita memang sebaiknya mendalami ilmu yang kita suka atau istilah kerennya, passion, daripada membebani diri dengan berkutat pada sesuatu yang tidak kita sukai. Namun, saya tidak begitu setuju jika sistem tersebut diberlakukan sejak pendidikan dasar.

Mengapa? Mari simak alasannya.


1. Kemampuan dan Pengetahuan Dasar Penting untuk Dimiliki

Image result for basic skills
Basic Skills oleh www.millville.org

Terlepas dari apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh anak, ada kemampuan dan pengetahuan dasar yang sebenarnya memang penting untuk dimiliki. Misalnya, kemampuan membaca, aritmetika dasar, pengetahuan dasar sejarah Indonesia, dll. Apakah karena tidak suka membaca, anak tidak usah diajari membaca? Apakah karena tidak suka matematika, anak tidak perlu diajari ilmu berhitung dasar? Apakah karena anti belajar sejarah, anak tidak harus mengetahui sejarah negaranya sendiri? Apakah dengan demikian, nantinya kita ingin generasi muda yang malas membaca, buta sejarah, dan kesusahan dalam ilmu perhitungan dasar?

Itulah mengapa (menurut saya) sekolah pertama disebut Sekolah Dasar. Ya karena memang yang diajarkan merupakan bekal dasar. Baru semakin tinggi jenjang pendidikan, setelah anak menyerap berbagai macam ilmu pengetahuan, pelajaran yang ditawarkan akan semakin spesifik dan pelajar bisa memilih ilmu yang akan didalami secara spesifik.

2. Tak Kenal, Maka Tak Sayang

Image result for introduction
Kenalan oleh http://www.grammarly.com

Sudah tidak asing lagi kan dengan pepatah di atas? Yup. Pepatah tersebut berlaku juga untuk ilmu pengetahuan.

Terkadang, ketidaksukaan itu muncul akibat kurangnya “Kenalan secara baik” dengan ilmu pengetahuan tersebut. Misalnya, kita langsung mengklaim tidka suka sejarah hanya karena melihat sekilas sejarah sebagai pelajaran membosankan yang isinya hanya “Menghafal tahun-tahun dan nama-nama di masa lalu”. Padahal, kita bisa saja jadi suka sejarah jika mengenali sejarah secara baik – sejarah ibarat film dan buku cerita keren yang ceritanya nyata dan penuh esensi -.

Jadi, karena anak di pendidikan dasar baru hanya mengenal “Secuil” dari berbagai ilmu pengetahuan, kita tidak bisa langsung men-judge kesukaan mereka terhadap suatu mata pelajaran / ilmu pengetahuan begitu saja, meskipun pengenalan ilmu pengetahuan yang baik memang harus dilakukan sejak dini.

3. Rasa Suka dapat Dibentuk

Image result for learning
Ilmu Pengetahuan oleh http://www.xyleme.com

Menyambung Poin 1, mungkin akan muncul pernyataan “Tapi tetap saja percuma mempelajari hal yang tidak disukai itu.”. Di sinilah poinnya. Kita bisa membuat hal yang tidak disukai tersebut menjadi disukai. Caranya? Percantik pengemasannya.

Nah di sini sebenarnya (menurut saya) kekurangan sistem pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia. Mata pelajaran selalu dikemas sebagai sesuatu yang membosankan, memusingkan, membebani, tidak berguna untuk kehidupan nyata, dll. Matematika dianggap pemusing belaka karena penuh dengan angka fiktif. Bahasa Inggris dianggap susah karena tata bahasanya dianggap ruwet. Kimia dianggap rumit karena rumusnya belibet.

Coba jika dikemasnya dengan baik. Pasti nantinya, siswa akan excited dengan Matematika karena ternyata bisa memecahkan masalah sehari-hari, excited dengan bahasa Inggris karena dikemasnya dengan nonton film seru dan latihan speaking dengan drama seru, atau mungkin excited dengan Kimia karena siswa ditunjukkan eksperimen-eksperimen kimia yang keren. Dengan begitu, belajarnya jadi tidak berdasarkan paksaan belaka, tetapi karena rasa ingin tahu yang besar.

Memang sih rasa suka itu tidak bisa dipaksakan. Namun, jangan sampai ketidaksukaan ini menjadikan kita antipati terhadap ilmu pengetahuan lain. Jangan sampai karena antipadti terhadap bahasa Inggris, keinginan kita untuk go international jadi terhambat.

However, menurut saya, sesuatu yang disukai belum tentu passion kita. Passion saya, misalnya, adalah matematika dan pendidikan, tetapi saya juga suka sejarah, geografi, sama bahasa.

4. Semua Ilmu Pengetahuan Saling Terintegrasi

Image result for knowledge
Integrasi Ilmu Pengetahuan oleh http://www.edx.org

This is a fact.  Merupakan fakta bahwa semua ilmu pengetahuan saling terintegrasi satu sama lain dan tidak ada yang bisa berdiri sendiri. Semuanya saling memperkokoh dan saling menunjang satu sama lain.

Then, apa yang terjadi kita antipati terhadap beberapa di antaranya? Bisa jadi ilmu yang kita sukai dan dalami juga tidak akan terpelajari dengan baik. Misalnya, seorang siswa ingin mendalami fisika tetapi tidak suka matematika sehingga tidak mau mempelajari matematika sejak dini. Pada akhirnya, pendalaman ilmu fisika siswa tersebut tidak akan berjalan dengan baik karena dalam fisika, banyak sekali konsep matematika yang digunakan. Contoh lainnya, seorang siswa yang ingin mempelajari sejarah dan kebudayaan Eropa memiliki kesulitan dalam mengembangkan pemahamannya akibat anti terhadap bahasa Inggris sehingga sumber belajarnya menjadi sangat terbatas.


Baik. Mungkin segitu saja opini singkat dari saya yang sebenarnya tidak singkat. Again, saya bukan ahli pendidikan atau semacamnya. Saya hanyalah seorang pecinta dunia pendidikan yang kebetulan ingin mengeluarkan pendapatnya. Yang jelas, mau seperti apapun profesi kita nanti, tidak akan ada ilmu yang sia-sia. Knowledge is powerful wealth, after all. 🙂

Sumber Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: