Tujuh (7) Info dan Persepsi Salah dalam SBMPTN (Versi Updated)

SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) merupakan salah satu jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berlingkup nasional. SBMPTN dilaksanakan serentak pada tanggal dan waktu yang sama di seluruh Indonesia. Seleksinya dilakukan secara terpusat oleh tim seleksi SBMPTN. Parameter penilaian di dalam SBMPTN adalah nilai tes dan nilai ujian keterampilan (untuk program studi tertentu).

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam dunia SBMPTN ini, banyak sekali info bias yang berseliweran dan diragukan keabsahannya. Info-info tersebut muncul karena kurangnya kejelasan informasi dari panitia SBMPTN itu sendiri atau kesalahpahaman sebagian orang, baik yang salah memahami informasi maupun yang salah berkaca pada pengalamannya. Kalau sudah seperti ini, kita bisa salah dalam menyusun strategi untuk SBMPTN dan akhirnya mengantarkan kita menuju kegagalan.

Kali ini, saya akan memaparkan tujuh info dan persepsi yang sering salah di dalam dunia SBMPTN. Setidaknya hal-hal yang saya paparkan di sini disimpulkan berdasarkan informasi dan pengalaman yang saya dapatkan selama kurang lebih lima tahun.

Catatan penting : Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan saya sebelumnya di blog yang lama (link), meskipun ada satu atau dua orang di luar sana yang mungkin memplagiat tulisan saya.

1. Nilai Mati

Bisa, kan, lulus SBMPTN? by http://yusuf-ananda.blogspot.com

Nilai mati adalah info bias yang paling ngetrend di dalam dunia SBMPTN. Banyak sekali jenis-jenis nilai mati yang beredar. Walau banyak jenisnya, nilai mati memiliki inti yang sama. Nilai mati adalah nilai atau skor yang menyebabkan kita langsung gugur jika mendapatkan nilai itu.

Ada yang bilang kalau kita mendapatkan nilai minus atau nol di salah satu mata uji SBMPTN, kita otomatis akan gugur. Ada juga yang bilang bahwa tidak masalah jika mendapat nilai minus atau nol di salah satu mata uji SBMPTN asalkan tidak ada mata uji yang “tidak diisi sama sekali”. Ada lagi yang bilang bahwa nilai mati itu adalah skor kurang dari 2,5 pada dua atau lebih mata uji. Masih banyak lagi jenis-jenis nilai mati yang beredar di luar sana.

Keberadaan nilai mati ini selalu menjadi kontroversi dari waktu ke waktu. Namun, sistem penilai SBMPTN sejak 2018 telah berubah dan tidak menggunakan sistem pengurangan poin lagi. Jadi, dapat dipastikan bahwa tidak ada nilai mati untuk sekarang karena semua info nilai mati yang tersebar hanya relevan dengan sistem penilaian lama.

Seleksi masuk Perguruan Tinggi yang dengan jelas memiliki nilai mati adalah USM STAN (Ujian Saringan Masuk STAN).

2. Mengikuti Jalur IPC jika Ingin Lintas Jurusan

EnteAnak IPC harus memborong semua soal by http://garaudynet.blogspot.comr a caption

Sebenarnya, poin nomor dua ini lebih tepat disebut salah persepsi daripada info bias. Katanya, kalau ingin lintas jurusan di SBMPTN, kita harus ikut jalur IPC. Misalnya, anak IPA mau memilih Akuntansi yang merupakan jurusan ranah IPS. Si anak IPA tersebut berarti harus mengikuti jalur IPC buat SBMPTN-nya.

Ini jelas sangat keliru. Telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya di laman resmi SBMPTN bahwa sistem pengelompokan jenis ujian (IPA, IPS, IPC) dalam SBMPTN tidak bergantung pada jurusan kita waktu di SMA, tetapi bergantung pada jenis program studi yang kita pilih. Jalur IPC harus kita ikuti jika kita memilih jurusan dari ranah IPA dan IPS. Misalnya, kita memilih Matematika Unpad (IPA), Fisika Unpad (IPA), dan Sastra Inggris Unpad (IPS).

3. Tempat Tes Memengaruhi Seleksi

Memilih tempat ujiannya yang terdekat, ya, agar tesnya tenang! by http://www.unsoed.ac.id

Poin nomor tiga ini merupakan info bias alias info salah. Sudah jelas disebutkan di dalam laman Resmi SBMPTN bahwa parameter penilaian dalam SBMPTN hanya nilai tes ditambah nilai ujian keterampilan (bagi program studi tertentu). Tidak ada ketentuan kalau tempat memengaruhi nilai tes atau penerimaan kita dalam SBMPTN. Kita dapat memilih tempat tes sesuka hati kita (syarat dan ketentuan berlaku).

“Tempat ujian tidak menjadi bahan pertimbangan dalam proses seleksi dan penentuan kelulusan seorang calon mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang dipilihnya.” (Laman resmi USM ITB Terpadu)

4. Peserta Bidikmisi dan Non-Bidikmisi Dibedakan

Semangat Bidikmisi! By uiupdate.ui.ac.id

Menurut poin nomor empat, peserta Bidikmisi memiliki peluang atau kuota yang lebih kecil daripada peserta non-Bidikmisi. Hal ini keliru. Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan dari pemerintah, bukan jalur seleksi masuk PTN. Kembali lagi ke ketentuan SBMPTN – parameter penilaian adalah nilai tes – . Tidak disebutkan bahwa peserta Bidikmisi memiliki kuota sendiri.

Memang, setiap PTN memiliki kuota Bidikmisi masing-masing. Namun, hal ini tidak lantas membuat perbedaan antara peserta Bidikmisi dan non-Bidikmisi dalam jalur SBMPTN. Sekali lagi, yang berbicara dalam tes SBMPTN adalah nilai tes. Jika ternyata peserta Bidikmisi yang diterima di SBMPTN melampaui kuota di Bidikmisi di PTN tempat dia diterima, Dikti masih mempunyai kuota tambahan yang bisa dialokasikan sesuai kebutuhan.

Info tambahan : Statement ini diperkuat dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Bapak Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno, MS, pada acara pembekalan mahasiswa Bidikmisi Unpad. Beliau menyatakan bahwa dalam seleksi SBMPTN, background peserta tidak dilihat. Yang dilihat hanyalah nilai tes. Jika peserta SBMPTN pelamar Bidikmisi yang diterima melebihi kuota, peserta tersebut tetap diterima.

5. Penilaian SBMPTN Menggunakan Sistem Passing Grade Persentase

Statistik nilai SBMPTN 2014 by www.twitter.com/kemdikbud_ri

Passing Grade merupakan suatu nilai patokan untuk lulus di suatu program studi. Biasanya berupa persentase. Misalnya, Passing Grade Matematika Unpad adalah 36%. Berarti, untuk lolos di program studi Matematika Unpad, kita minimal harus mendapatkan skor 36% dari skor sempurna. Passing Grade biasanya dibuat oleh bimbingan belajar atau lembaga-lembaga tertentu sebagai acuan/patokan untuk lolos di satu program studi. Passing Grade sendiri sebenarnya tidak ada dalam SBMPTN.

Namun, banyak yang salah persepsi tentang Passing Grade. Banyak yang berpikir kalau Passing Grade itu benar-benar ketentuan dan sistem seleksi yang resmi dalam SBMPTN. Ini jelas keliru. Kalau memang benar seleksi SBMPTN menggunakan Passing Grade, mengapa yang ditampilkan di laman Resmi SBMPTN adalah daya tampung dan jumlah peminat tahun sebelumnya? Bukan Passing Grade-nya?

Prinsip seleksi SBMPTN adalah “menjaring”. Misalnya, program studi Agribisnis Unpad mempunyai kuota 45. Berarti, yang akan diterima di Agribisnis Unpad adalah 45 peserta nilai tertinggi. Jika SBMPTN menggunakan sistem Passing Grade dan ternyata ada 100 peserta yang memenuhi Passing Grade tersebut, akan dike-mana-kan 55 orang yang lain? Masa bawa kursi sendiri dari rumah. Tidak mungkin, ‘kan?

Jadi, jangan sampai salah memahami Passing GradePassing Grade hanya patokan/acuan, bukan sistem seleksi resmi dalam SBMPTN.

6. Pembobotan Mata Uji pada Setiap Program Studi Berbeda

Jangan cuma fokus ke satu mata uji, ya! by www.planetyar.com

Sepertinya, info bias ini muncul karena pemikiran awam. Menurut info bias nomor enam ini, bobot setiap mata uji berbeda-beda tergantung program studi yang dipilih. Misalnya, bobot mata uji Biologi lebih tinggi dari Fisika jika kita memilih program studi Pendidikan Dokter. Jadi intinya, menurut info ini, kita harus meningkatkan skor mata uji yang sesuai atau relevan dengan program studi yang dipilih.

Info nomor enam ini jelas keliru karena info yang ada di dalam laman Resmi SBMPTN justru kontradiktif dengan info ini. Dalam sistem penilaian laman resmi SBMPTN, tidak disebutkan bahwa satu mata uji bisa lebih besar atau spesial bobotnya dibandingkan dengan mata uji lainnya.

Coba cek petunjuk nomor 14 pada gambar berikut yang merupakan petunjuk pengerjaan soal SBMPTN dari tahun ke tahun (saya belum menemukan soal 2018).

Petunjuk Pengerjaan Soal SBMPTN by http://www.slideshare.net

Dulu, waktu SBMPTN masih bernama SNMPTN Tulis, memang disebutkan di web SNMPTN bahwa bobot TPA adalah 30% serta TKDU+TKD Saintek/Soshum adalah 70%. Sekarang, sistem penilaiannya sudah berbeda.

7. Ada PTN yang Tidak Ingin Dinomorduakan

Pilih yang mana, ya? by http://infoduniakampus.blogspot.com

Dalam SNMPTN (Bukan SBMPTN), banyak beredar info kalau ada beberapa PTN yang tidak ingin dijadikan pilihan kedua. Dan memang, jarang sekali peserta SNMPTN yang diterima di pilihan kedua atau ketiga. Terlepas apakah benar ada PTN yang tidak ingin dinomorduakan atau karena sistem seleksinya berbeda, yang jelas, fakta berkata demikian.

Namun, hal ini tidak berlaku di dalam SBMPTN. Mengapa? Karena sistem penyeleksian SBMPTN terpusat oleh sebuah sistem – tidak diseleksi oleh masing-masing PTN –. Salah satu buktinya yaitu banyak peserta SBMPTN yang diterima di pilihan kedua atau ketiga, tidak seperti SNMPTN.

Ya, bagaimanapun juga, penguasaan informasi merupakan hal penting dalam peperangan. SBMPTN ibarat peperangan. Jadi, penguasaan informasi mutlak penting jika kamu benar-benar ingin tembus masuk PTN.

Semoga, artikel saya ini bisa membantu kalian yang khususnya sedang dilanda euforia seleksi masuk PTN. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai. Siapkan amunisi se-dini mungkin.

“Ingat, di saat kamu sedang bersantai-santai, ribuan sainganmu sedang belajar!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: