SBMPTN dan Keberuntungan – Apakah SBMPTN itu Hanya Untung-Untungan?

Akhir-akhir ini, suatu grup berbau SNMPTN dan SBMPTN dihebohkan oleh suatu post yang menyatakan bahwa orang-orang yang lulus SBMPTN adalah orang-orang yang “Beruntung”. Entah apa “Beruntung” yang dimaksud oleh si penulis, tetapi post tesebut cukup membuat jagat grup tersebut heboh. Ada yang tidak setuju, ada yang absolutely tidak setuju, ada yang netral, ada yang nyinyir, dan lain-lain.

Sebagai “Veteran” dalam dunia SBMPTN, saya juga tergelitik untuk menyanggah post tersebut karena saya pribadi tidak setuju dengan statement-nya yang menyatakan bahwa orang yang lulus SBMPTN adalah orang beruntung atau secara general, kita sebut yang membuat lolos SBMPTN adalah faktor keberuntungan, jika keberuntungan yang dimaksud adalah “Nasib-nasiban”.

Saya sempat menyanggah tulisan tersebut juga di kolom komentarnya. Tentunya, biar agak keren, saya bumbui argumen saya dengan ilmu yang sempat saya dalami di bangku S-1 ini, yaitu matematika. Namun, mungkin komentar saya tertumpuk oleh beberapa komentar lain. We know, post viral pasti bakal penuh dengan komentar dan tidak semua orang mempunyai keinginan untuk meluangkan waktu dan membaca semua komentar di post tersebut.

Saya akan memaparkan analisis saya seobjektif mungkin dan tidak asal klaim. Jika di tulisan tersebut, si pembuat post hanya “Mengklaim lulus SBMPTN akibat keberuntungan” tanpa argumen jelas, maka saya tidak akan melakukan hal tersebut karena itu tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak mencerminkan saya sebagai seorang mahasiswa.

Oke. Sudah cukup intronya. Kita mulai saja.

1. Persepsi Arti “Keberuntungan”

Pertama-tama, supaya “Nyambung”, kita samakan dulu persepsi atau frame mengenai arti kata “Beruntung” atau “Keberuntungan” ini. Tentunya, saya tidak akan memaksakan frame saya. Saya akan mengambil definisi “Beruntung” dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Berikut adalah arti beruntung dan keberuntungan menurut KBBI.

Beruntung : berlaba; mendapatkan laba; bernasib baik; mujur; berhasil (maksudnya, usahanya, dan sebagainya); tidak gagal;
Keberuntungan : nasib; kemujuran; keadan beruntung; keberhasilan;

Dari arti di atas, kita bisa sederhanakan arti kata tersebut dan mengartikan bahwa “Beruntung” artinya “Bernasib baik” dan “Keberuntungan” artinya “Keadaan bernasib baik”. Sudah sepaham?

Oke. Jika sudah satu persepsi dengan definisi beruntung dari KBBI tersebut, silakan lanjutkan untuk membaca tulisan ini. Jika tidak, baca ulang definisi beruntung tersebut karena jika tidak dalam persepsi yang sama, pembahasan ini tidak akan nyambung dengan apa yang dipikirkan seperti membahas ikan paus yang dianggap sebagai kucing hutan. Tidak nyambung.

Image result for tes sbmptn
Tes SBMPTN by http://www.pojoksatu.id

2. Bernasib Baik di SBMPTN

Nah sekarang, seperti apa, sih, yang dimaksud dengan BERNASIB BAIK dalam SBMPTN?

Mari simak baik-baik.

SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) merupakan salah satu jalur masuk PTN yang berupa tes tulis dan tes keterampilan (bagi prodi tertentu). Itu artinya, peserta SBMPTN akan dijaring dalam suatu seleksi tertulis dan ditentukan siapa saja yang berhak mendapatkan kursi PTN lewat jalur tersebut. For your information, soal-soal SBMPTN merupakan soal pilihan ganda yang terdiri dari lima options. Jadi kasarnya, di SBMPTN, peserta akan “Tinggi-tinggian poin” untuk meraih kuota kursi PTN yang terbatas tersebut.

Sekarang, cukup mudah untuk menyimpulkan bahwa semakin tinggi poin peserta, semakin besar pula peluang si peserta untuk lolos SBMPTN dengan asumsi tidak ada faktor X lain yang mengganggu seperti kebelet saat tes, kecelakaan sebelum tes, telat bangun pada hari tes, dan lain-lain. Ya walaupun dalam pengamatan saya dari semenjak terjun ke dunia SBMPTN, ada bentuk konversi nilai lain [1] yang menunjukkan bahwa poin lebih tinggi dari peserta lain saja tidak menjamin memiliki “Nilai konversi” tersebut tinggi juga. Tapi, saya katakan, dalam pengamatan saya tersebut, dapat disimpulkan bahwa kasus poin tinggi tetapi nilai konversi tidak tinggi itu jarang terjadi. Jadi, kesimpulan “Semakin tinggi poin, semakin besar juga peluang lolos” bisa dikatakan valid dalam kasus ini.

Nah. Seorang peserta SBMPTN dikatakan beruntung atau bernasib baik jika si peserta mempunyai poin yang tinggi dan untuk mempunyai poin yang tinggi, si peserta tersebut tentunya harus menjawab soal sebanyak mungkin dengan benar dan meminimalisasi menjawab soal dengan salah (karena ada pengurangan poin).

Pertanyaannya sekarang, apa yang “Membuat” peserta bisa bernasib baik dan mendulang banyak poin?

Mari kita bagi ke dalam dua kasus.

P. S : Harap diketahui bahwa soal SBMPTN merupakan soal pilihan ganda dengan lima option.

3. Kasus Beruntung di SBMPTN

Kasus 1 : Peserta sudah mempersiapkan SBMPTN sebaik mungkin

Dalam kasus ini, peserta telah mempersiapkan diri dengan baik. Misalnya, sudah belajar siang-malam, mengatur strategi, try out berkali-kali, dan lain-lain.

JIka si peserta sudah mempersiapkan SBMPTN dengan baik, si peserta bisa menjawab soal DENGAN SATRATEGIS. Dengan strategis di sini maksudnya adalah si peserta bisa menentukan kapan soal bisa dijawab dengan benar dan kapan tidak bisa dijawab. Dengan begitu, si peserta bisa mendulang poin setinggi-tingginya tanpa bergantung terhadap faktor “Gambling” seperti asal mengisi ataupun “Ngitung kancing”. Dengan begitu, peluang untuk bisa menjawab soal dengan benar dan mencegah menjawab soal yang salah menjadi besar.

Mengapa bisa begitu? Ya kembali lagi, karena mempersiapkan diri dengan baik. Menjawab soal karena bisa mengerjakannya (akibat belajar dan menyusun strategi), bukan karena “Judi”, tidak menjawab soal dengan “Nembak” karena paham bahwa peluang untuk salah lebih besar (4/5) dibandingkan dengan peluang untuk benar (1/5).

Jadi kesimpulannya, dalam kasus ini, si peserta bisa lolos karena “Bisa mengerjakan soal dengan strategis”.

Peluang : Besar

Kasus 2 : Peserta dianggap “Mujur”

Nah ini mungkin yang biasanya dianggap identik dengan mujur. Jadi, dalam kasus ini, apapun yang dilakukan peserta, kalau nasibnya mujur, ya pasti lolos. Apapun. Kasarnya, mau belajar ataupun tidak, kalau mujur, ya pasti lolos.

Sekarang, kita analisis seberapa besar faktor mujur tersebut berpengaruh.

Ingat lagi frame awal. Peserta SBMPTN dikatakan berpeluang lolos besar jika memiliki poin yang tinggi. Dalam kasus ini, si peserta dianggap hanya mengandalkan faktor mujur tadi. Jadi, tidak ada parameter pasti dalam memilih jawaban. Jika tidak ada parameter pasti dalam memilih jawaban, tentunya pemilihan jawaban pada saat tes akan cenderung mengarah kepada bentuk pengundian. “Tidak ada parameter” berarti jawaban yang dipilih tidak memiliki dasar yang kuat sehingga (lagi-lagi) mengarah kepada gambling. Karena cenderung mengarah ke gambling, kita bisa analisis peluangnya dengan menggunakan teori peluang seperti pada kasus pelemparan dadu yang sering dipelajari di sekolah itu.

Nah, mari kita bermain-main sedikit dengan menggunakan matematika.

Kita ketahui bahwa setiap soal SBMPTN memiliki lima option dan hanya satu jawaban yang benar. Jadi, peluang si peserta untuk menjawab soal benar adalah 1/5. Get it?

Sekarang, berapakah peluang untuk bisa menjawab semua soal SBMPTN dengan benar?

For your information, soal SBMPTN terdiri dari 90 soal TKPA dan 60 soal TKD Saintek / Soshum. Jadi, total semua soal SBMPTN adalah 150.

Karena proses pemilihan jawaban ini dilakukan dalam sesi waktu yang sama atau secara bersamaan dan peluang untuk menjawab satu soal dengan benar adalah 1/5, maka peluang untuk menjawab semua soal dengan benar adalah (1/5)^150 = 1/sekian juta [2] (digitnya terlalu banyak jika dihitung di kalkulator biasa). Satu persekian juta tentunya angka yang sangat sangat kecil. Sebagai gambaran, (1/5)^10 = 1/9.765.625 saja sudah sangat kecil.

Oke, lah, terlalu naif mungkin jika menganggap bisa menjawab semua soal dengan benar. Kita coba ambil setengahnya. Bisa menjawab setengah soal SBMPTN dengan benar juga akan mendulang poin yang worth it.

Peluang untuk menjawab setengah soal SBMPTN alias 75 soal dengan benar adalah (1/5)^75 = 1/sekian juta. Masih sangat sangat kecil. Lihat saja. Peluang untuk menjawab sepuluh soal saja sudah sangat kecil (1/9.765.625).

Jadi kesimpulannya, dalam kasus ini, si peserta bisa lolos karena “Nasibnya memang mujur”.

Peluang : Sangat kecil

Dari pemaparan kedua kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa IYA, peserta yang lolos SBMPTN adalah orang yang beruntung, tetapi beruntung karena memang mempersiapkan diri untuk SBMPTN tersebut, buka karena ASAL nasibnya mujur.

Ya mungkin sekian saja pemaparan panjang lebar dari saya. Mohon maaf jika banyak yang typo. Itu kebiasaan buruk saya yang sangat susah diubah. Haha. Kritik dan saran sangat saya terima. Namun, tidak dengan nyinyiran, ya, karena saya juga tidak nyinyir di tulisan ini.

Referensi
– http://kbbi.web.id
– http://www.sbmptn.ac.id

Catatan Kaki dan Keterangan
[1] Nilai konversi yang dimaksud adalah nilai nasional. Berdasarkan pengamatan saya, nilai nasional diperoleh dengan menggunakan prinsip distribusi normal dalam statistika dan dipengaruhi oleh persebaran poin pada masing-masing mata uji.

[2] Tanda “^” berarti pangkat.

Note : No copas. 🙂

Tambahan : Sistem penilaian SBMPTN telah berubah (klik ini untuk gambaran). Namun, fakta hanya ada satu jawaban benar dari lima options tidak berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: